Asal Usul nama Gumelar (babad Ajibarang)

Posted: 26 November 2012 in Uncategorized

Negeri Galuh Pakuan, termasuk wilayah Kerajaan Pejajaran. Pada saat ini Galuh Pakuan dilanda kemarau panjang yang menyengsarakan kehidupan rakyat. Adipati Galuh Pakuan bernama Munding Wilis.

Istri Adipati Munding Wilis sedang hamil. Ia meminta untuk dicarikan daging kijang yang berkaki putih. Permintaan tersebut dikabulkan sang Adipati.

Adipati Munding Wilis bersama beberapa punggawa kadipaten berangkat berburu ke hutan. Sang Adipati menunggang kuda yang bernama Dawuk Mruyung. Sebelum mendapatkan binatang buruan, rombongan Adipati tersesat di sebuah perkampungan perampok. Mereka ditangkap oleh para perampok yang dipimpin oleh Abu Lawang. Semua perbekalan dirampas termasuk kudanya. Adipati dipersilakan pulang ke kadipaten dengan jalan kaki.

Setiba di kabupaten, Adipati sedikit terobati hatinya mendengar istrinya telah melahirkan seorang putra yang berparas tampan dengan ciri pada lengan kanan terdapat belong “toh wisnu”.

Kegembiraan sang Adipati menjadi hilang karena empat hari dari kelahiran putranya, secara tiba-tiba kadipaten diserang perampok yang dipimpin oleh Abulawang. Kadipaten dirampas harta bendanya dan dibakar. Untung sang Adipati beserta istrinya diselamatkan oleh KI Juru Taman, pembantu kadipaten.

Setelah keadaan aman, sang Adipati teringat nasi putranya yang baru lahir itu, dicari ke semua penjuru kadipaten ternyata tidak dapat ditemukan. Suatu ketika seorang penduduk melaporkan bahwa putranya dibawa lari oleh perampok Abulawang. Hancur hati sang Adipati beserta sang istrinya. Adipati bertekad mencari putranya dengan menyamar sebagai petani dengan nama Pak Sandi.

Di Bukit Mruyung, sarang perampok, Abulawang dan istriya dalam keadaan suka cita. Ia dapat membawa lari putra sang sang Adipati yang tampan. Anak itu dianggap sebagai putranya sendiri karena mereka tidak mempunyai anak. Oleh Abulawang anak itu diberi nama Jaka Mruyung.

Setelah dewasa, Jaka Mruyung tidak suka kepada watak orang tuannya yang kejam, suka merampok, minum dan berjudi. Secara diam-diam Jaka Mruyung pergi meninggalkan Bukit Mruyung dengan menggunakan kuda Dawuk Mruyung yang ternya kuda milik ayahnya sendiri.

Dengan perbekalan secukupnya Jaka Mruyung pergi ke arah timur melalui hutan belantara. Sampailah ia ke suatu daerah yang disebut Dayehluhur, Jaka Mruyung singgah disebuah rumah kecil milik Ki Mraggi. Oleh Ki Mraggi, Jaka Mruyung diangkat sebagai cucunya. Ia diajarinya membaca, menulis, dan ilmu keprajuritan. Ki Mranggi adalah seorang bekas prajurit Majapahit yang menetap di daerah itu. Tempat belajar membaca dan menulis Jaka Mruyung ini diberi nama Desa Panulisan.

Setelah dianggap cukup Jaka Mruyung diizinkan meneruskan perjalanannya. Jaka diberi petunjuk agar pergi ke arah timur lurus dan mencari hutan yang bernama Pakis Aji. Bila sudah ditemukan hutan itu agar dibabad sebagai dukuh tempat tinggalnya. Kelak dukuh itu akan menjadi sebuah negeri yang besar.

Perjalanan Jaka Mruyung sampai pada tempat yang terbentang luas dengan rerumputan hijau. Ia beristirahat dan kudanya dibiarkan merumput. Tempat itu diberi nama Gumelar artinya tempat yang terbentang luas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s